Dampak Sosial Informatika

 


7. Dampak Sosial Informatika

bermakna dalam elemen pengetahuan belajar diskusi terbimbing untuk memahami, Dampak Sosial Informatika melalui dampak teknologi dan komunikasi menganalisis, dan menyimpulkan terbaru di dunia. Hasil simpulan kalian, dari kasus-kasus penemuan teknologi poster/presentasi yang dikembangkan secara selanjutnya disajikan dalam bentuk kolaboratif dengan menggunakan media digital sebagai tempat penyimpanan menggunakan produk teknologi informasi secara keterbukaan informasi dan dampak tentang bersama. Kalian diajak untuk kolaboratif yang merupakan elemen Hal penting yang dipelajari adalah mengasah pemikiran dan menggali bagaimana siswa dapat menjaga keamanan data dan informasi diri sehingga mampu untukmemilah informasi pribadi/privat manapraktik inti. Kalian juga belajar positif/negatif dari keterbukaan informasi. pemahaman tentang topik-topik yang dibahas.yang boleh dipublikasi di dunia maya.Beberapa kasus dipaparkan untuk latihan.

Penggunaan internet dan komputer/ponsel pintar yang makin meluas telah banyak menggantikan beberapa kegiatan fisik manusia menjadi kegiatan daring, seperti berkomunikasi, berdagang, bertransaksi perbankan, bersekolah, dll. Ketika banyak pekerjaan dilakukan secara daring, membuat data dan informasi pribadi dan sensitif mudah tersebar di jaringan internet kita. Data tersebut di antaranya adalah data pribadi yang disimpan di ponsel seperti nomor kontak teman kita, data yang disimpan di penyimpan awan oleh aplikasi yang kita gunakan (media sosial, e-commerce, dll.), di instansi pemerintah, maupun di institusi bisnis (bank, asuransi, dll).


Hal ini menimbulkan kerawanan pencurian informasi yang selanjutnya berkembang menjadi kejahatan di dunia maya maupun di dunia nyata. Saat itulah, kalian harus memahami berbagai aspek keamanan data dan informasi untuk menjaga informasi pribadi kalian agar tetap aman dan terhindar dari kejahatan di internet.

A. Keamanan Data dan Informasi

Apa itu keamanan data dan informasi? Keamanan data dan informasi terdiri atas tiga kata, yaitu keamanan, data, dan informasi. Keamanan secara fisik dapat dianalogikan dengan perlindungan sebuah gedung, seseorang, organisasi atau negara dari ancaman kejahatan. Keamanan dapat dilakukan melalui objek fisik seperti dinding dan kunci. Namun, juga dapat dilakukan oleh orang, proses, pengawasan, otorisasi seperti yang kalian temukan di area tertentu seperti: objek penting negara, bandara, dll. Data berasal dari kata dalam bahasa Latin, datum, yang artinya fakta, keterangan yang benar, dan nyata yang dapat diobservasi dan dikumpulkan dari sumber data. Data dapat dijadikan dasar kajian (analisis atau kesimpulan).

Dalam bidang Informatika, data disimpan dalam bentuk yang dapat diproses oleh komputer, seperti representasi digital dari teks, angka, gambar, grafis, suara (audio), atau video. Data dapat bersifat kualitatif yang berarti menggambarkan sesuatu atau bersifat kuantitatif yang berupa numerik (angka). Informasi adalah makna yang disampaikan oleh serangkaian representasi yang merupakan hasil pemrosesan data. Informasi karena telah memiliki makna, dapat berupa informasi fisik atau logika, misalnya, urutan genetik (DNA), hasil analisis, dan kesimpulan. Data dan informasi sering dipertukarkan artinya, tetapi sebenarnya memiliki arti yang berbeda. Informasi memiliki sifat yang akurat, tepat waktu, kontekstual, relevan, bertujuan, spesifik, dan dapat dikelola. 

Istilah keamanan data dan informasi sering muncul dalam konteks Informatika yang merujuk pada keamanan data dan informasi yang berkaitan dengan penggunaan peranti digital, seperti ponsel pintar, PC, atau gawai lainnya yang juga merupakan sumber data. Peranti-peranti tersebut biasanya terhubung dengan internet. Keamanan data dan informasi berkaitan dengan perangkat lunak/artefak komputasional yang kita gunakan. Saat ini, jika chatting di ponsel pintar, kita menggunakan aplikasi yang mungkin memiliki celah keamanan. Jika menggunakan sistem operasi pada ponsel pintar, data kita juga rawan untuk dicuri. Keamanan informasi terkait dengan pengembangan artefak komputasional yang aman, dari proses pengembangannya dimulai dari analisis kebutuhan, perancangan, pengkodean, pengujian, pengoperasian, dan perbaikannya jika ada kesalahan (bug). Bug ini dapat menjadi celah keamanan informasi. Pada beberapa tahun terakhir, muncul istilah cybersecurity (keamanan informasi di internet). Cybersecurity mencakup beberapa bidang ilmu yang berkaitan karena berhubungan dengan aspek manusia, hukum, kebijakan, etika, dan bahkan hubungan antarnegara. Keamanan data dan informasi lebih luas daripada keamanan dunia maya. Namun, pada materi ini, keamanan data dan informasi akan banyak dijelaskan dalam bingkai keamanan dunia maya.

1. Kejahatan di Dunia Digital

Saat ini, dengan makin banyaknya pengguna komputer dan internet, komputer Banyak digunakan orang menjadi tempat yang dapat digunakan untuk di internet. Muncullah istilah peretas atau peretasan yang memiliki yang positif dan negatif. belajar menjadi pemrogram/programmer untuk mengelola sistem dan menjaga keamanannya. Namun, yang berbuat kejahatan. selanjutnya disisi lain, ada juga orang yang belajar untuk meretas dan melakukan kejahatan konotasi yang positif dan negatif.

2. Kerawanan di Dunia Digital

Pada penjelasan sebelumnya, mungkin, kalian bertanya-tanya, mengapa peretas tampak dengan mudah mendapatkan akses ke daftar kontak teman kita atau mengapa spam e-mail begitu banyak kita dapatkan? Ada apa dengan teknologi informasi?

Kalian juga mendengar banyak serangan peretasan pada data dan peranti sensitif yang berhasil. Banyak perangkat medis yang dapat diretas. Mengapa perangkat medis tidak dilindungi? Saat ini, memang hampir semua peranti dalam sistem digital dari ponsel, tablet, bahkan peralatan rumah tangga kita di rumah dapat dikendalikan dengan Web. Namun, peranti tersebut ternyata memiliki kerentanan berupa kelemahan dan kekurangan yang dapat ditemukan dan dieksploitasi seseorang. Berbagai faktor berkontribusi kerawanan pada keamanan teknologi informasi, yaitu:

a. kompleksitas yang melekat pada sistem komputer,

b. sejarah perkembangan internet dan Web itu sendiri,

c. perangkat lunak dan sistem komunikasi di balik penggunaan telepon, web, sistem industri, dan peranti lainnya,

d. kecepatan pengembangan aplikasi baru,

e. faktor ekonomi, bisnis, dan politik, dan

f. sifat manusia.

Secara umum, kerawanan tersebut dapat dikelompok dalam tiga hal besar, yaitu: kerawanan pada sistem operasi, kerawanan pada internet, dan kerawanan pada sifat manusia, serta teknologi Internet of Things. Simak penjelasan berikut tentang ketiga kerawanan tersebut. 

B. Perkakas untuk Melindungi Data dan Informasi

Pada subbab sebelumnya, kalian telah mempelajari banyaknya ancaman kejahatan di dunia maya. Mungkin, hampir setiap hari, kita selalu mendengar adanya pelanggaran keamanan dan serangan dunia maya. Hal itu mungkin terjadi karena banyak kerentanan yang ada pada sistem kita. Pada bab ini, akan dibahas mengenai perkakas yang dapat melindungi data dan informasi kita di internet sehingga lebih aman.

1. Enkripsi

Enkripsi adalah alat keamanan yang sangat berharga untuk pengamanan data pada komunikasi data di jaringan komputer/internet. Enkripsi adalah suatu metode yang mengodekan data sebelum dikirim melalui jaringan komputer. Data tersebut disandikan sedemikian rupa sehingga tidak dapat dibaca sebelum dikembalikan ke bentuk aslinya (di-decrypt). Dengan enkripsi, data yang menyebar dalam jaringan komputer, atau dalam bentuk lainnya tidak dapat dibaca tanpa di dekripsi. Metode ini membuat data menjadi lebih aman. Sebagai pengingat.

Beberapa perancang internet awal sangat menganjurkan penggunaan enkripsi pada komunikasi data. Pada saat dikembangkan, memang protokol utama komunikasi Internet, TCP/IP tidak melakukan enkripsi data karena enkripsi membutuhkan sumber daya komputasi yang besar dan mahal. Masalah juga diperparah dengan problem pendistribusian kunci (key) dekripsi yang sulit. Algoritma rinci enkripsi telah diajarkan pada materi sebelumnya.

Saat ini, teknologi enkripsi sudah sangat mapan, tetapi masih dianggap mahal dan merepotkan. Teknologi ini membutuhkan biaya pengembangan dan sumber daya komputasi yang tidak sedikit sehingga pemerintah dan bisnis pun sering tidak menggunakannya bahkan untuk aplikasi yang sangat penting.

Sebagai contoh, institusi militer di Amerika, pada awalnya tidak mengenkripsi sistem pemberi masukan (feeder) video pada sistem drone, celah ini kemudian mampu dimanfaatkan seseorang (musuh) untuk meretasnya dengan menggunakan perangkat lunak seharga 500 ribu rupiah yang tersedia di internet. Drone akan mendapatkan informasi yang salah sehingga tidak dapat melakukan operasi pengintaian yang tepat sasaran.

Contoh lain, sebuah perusahaan retail (pengecer) TJX di Amerika menggunakan sistem enkripsi yang ketinggalan zaman untuk melindungi data yang dikirim melalui cash register ke komputer server melalui jaringan nirkabel. Peretas tahu celah ini, yang kemudian menggunakan antena kekuatan tinggi untuk melakukan intercept (cegatan) data transaksi penjualan ini, mengambil datanya, memecahkan kodesandi karyawan, dan kemudian melakukan peretasan ke basis data pusat. Selama periode sekitar 18 bulan, peretas berhasil mencuri jutaan nomor kartu debit dan kartu kredit beserta informasi identifikasi penting milik ratusan ribu orang. Nomor yang dicuri tersebut kemudian digunakan secara tidak sah setidaknya di delapan negara.

Dua insiden tersebut menunjukkan contoh enkripsi data yang terabaikan dan tidak memadai dalam proses transmisi data. Penggunaan penting berikutnya dari enkripsi adalah untuk kepentingan data dan dokumen yang disimpan. Dalam beberapa kasus pencurian besar data pribadi konsumen dari perusahaan pengecer, didapatkan bahwa database mereka termasuk kata sandi, nomor kartu kredit, dan nomor penting lainnya tersimpan dalam keadaan tanpa enkripsi.

Teknik lain yang banyak digunakan peretas untuk mendapatkan informasi kredensial pengguna adalah menggunakan Wi-Fi tidak terenkripsi. Peretas dengan santai duduk di kafe kopi sambil melakukan scanning transmisi Wi-Fi.

Dampak teknologi terhadap kehidupan sosial sangat beragam, menciptakan kemudahan komunikasi jarak jauh dan perluasan jaringan (positif), namun juga menimbulkan isu seperti isolasi sosial, kecanduan, dan penurunan interaksi tatap muka (negatif), serta mengubah budaya dan pola interaksi yang menuntut bijak dalam pemanfaatannya. 

Etika berinternet sangat penting untuk menciptakan ruang digital yang aman, nyaman, dan positif dengan mencegah hoaks, cyberbullying, dan ujaran kebencian, serta menjaga privasi dan reputasi diri, yang pada akhirnya membangun interaksi sehat, saling menghormati, dan kredibilitas online, mencerminkan karakter pribadi yang baik, dan memastikan perlindungan hukum bagi pengguna. 

Privasi data dan perilaku baik di dunia digital saling terkait: lindungi data pribadi (kata sandi kuat, 2FA, hati-hati WiFi publik, batasi share info) untuk mencegah kejahatan, sementara etika digital (sopan santun, empati, tidak menyebar hoaks) menciptakan lingkungan online yang sehat, seperti di dunia nyata, sesuai dengan prinsip transparansi dan keadilan.


Dampak Negatif

Isolasi Sosial: Terlalu fokus pada interaksi digital dapat mengurangi kualitas hubungan tatap muka dan menimbulkan keterasingan. 

Kecanduan Teknologi: Penggunaan berlebihan bisa mengganggu kesehatan dan interaksi langsung, bahkan pada anak-anak. 

Penurunan Interaksi Langsung: Orang lebih memilih layar daripada bertemu langsung, mengurangi ikatan emosional yang kuat dari kontak fisik. 

Penyalahgunaan dan Keamanan: Munculnya cyberbullying dan potensi penyebaran hal negatif jika tidak digunakan bijak. 

Perubahan Budaya & Bahasa: Bahasa asing sering terintegrasi, bahasa daerah mungkin terkikis; budaya konsumsi instan semakin kuat. 

Kesenjangan Sosial: Akses dan pemahaman teknologi yang tidak merata bisa menciptakan kesenjangan baru. 

Dampak Negatif

Isolasi Sosial: Terlalu fokus pada interaksi digital dapat mengurangi kualitas hubungan tatap muka dan menimbulkan keterasingan. 

Kecanduan Teknologi: Penggunaan berlebihan bisa mengganggu kesehatan dan interaksi langsung, bahkan pada anak-anak. 

Penurunan Interaksi Langsung: Orang lebih memilih layar daripada bertemu langsung, mengurangi ikatan emosional yang kuat dari kontak fisik. 

Penyalahgunaan dan Keamanan: Munculnya cyberbullying dan potensi penyebaran hal negatif jika tidak digunakan bijak. 

Perubahan Budaya & Bahasa: Bahasa asing sering terintegrasi, bahasa daerah mungkin terkikis; budaya konsumsi instan semakin kuat. 

Kesenjangan Sosial: Akses dan pemahaman teknologi yang tidak merata bisa menciptakan kesenjangan baru. 




Comments

Popular posts from this blog

Berpikir Komputasional

TIK Penggunaan Aplikasi Kantor dan Konten Digital